Jakarta, ibu kota Indonesia, merupakan kota metropolitan yang ramai dan penuh dengan kehidupan. Bagi para mahasiswa yang tinggal di Jakarta dan hidup mandiri, tentunya harus memperhitungkan biaya hidup secara matang agar kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi dengan baik.

Terlebih bagi mahasiswa yang tinggal di kos-kosan, perhitungan biaya hidup menjadi semakin penting. Mulai dari biaya makan, transportasi, listrik, air, hingga internet, semuanya harus diperhitungkan dengan cermat agar tidak mengalami kekurangan atau bahkan kelebihan pengeluaran.

Oleh karena itu, dalam artikel ini akan dibahas sepuluh biaya hidup yang perlu diperhitungkan oleh mahasiswa yang tinggal di Jakarta dan kos-kosan, sehingga dapat membantu dalam mengatur keuangan secara lebih efektif.

Jakarta selalu dikaitkan dengan kawasan perkantoran dan gedung-gedung pencakar langit yang menjadi pusat perekonomian di Indonesia.

Hal ini membuat banyak orang dari berbagai daerah terutama pekerja dan mahasiswa tertarik untuk merantau ke Jakarta dalam mencari pekerjaan yang ideal dan menafkahi keluarga di kampung. Meskipun upah minimum pekerja di Jakarta lebih tinggi, namun biaya hidup di kota metropolitan ini jauh lebih tinggi dibandingkan kota-kota kecil seperti Jogja.

Selain itu, di kota-kota metropolitan lain seperti Bandung, Surabaya, dan Batam mungkin memiliki biaya hidup yang sama tingginya. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui estimasi biaya hidup di Jakarta tahun 2023 untuk satu orang per bulan agar dapat mengatur keuangan dengan baik.

1. Tempat Tinggal

Saat merantau ke Jakarta, tempat tinggal menjadi hal yang paling penting untuk dipertimbangkan.

Terdapat berbagai pilihan akomodasi seperti kos-kosan, apartemen, dan rumah kontrakan dengan harga sewa yang beragam.

Jakarta terdiri dari enam wilayah administratif yang mungkin mempengaruhi harga sewa hunian.

Kos-kosan merupakan pilihan yang tepat untuk mahasiswa, pekerja, atau pasangan muda yang baru memulai kehidupan.

Harga sewa kamar kost di Jakarta bervariasi antara Rp.1.000.000 hingga Rp.4.000.000 per bulan tergantung dari letak dan fasilitas yang disediakan.

Sedangkan apartemen memiliki tingkat privasi, keamanan, dan fasilitas yang lebih lengkap dibandingkan dengan kos-kosan, namun harganya jauh lebih mahal.

Bagi perantau yang sudah berkeluarga, sewa rumah kontrakan menjadi pilihan yang lebih tepat, meskipun harganya mencapai puluhan juta per tahun tergantung pada luas dan letaknya.

2. Tagihan Utilitas

Setiap bulan, tagihan utilitas menjadi salah satu pengeluaran rutin yang tidak bisa dihindari bagi pemilik atau penyewa tempat tinggal.

Jumlah tagihan ini tentu berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya, tergantung pada pemakaian listrik, air, dan gas. Bagi mereka yang tinggal di kos-kosan, biasanya tagihan utilitas telah termasuk dalam biaya sewa bulanan.

Namun, jika Anda memutuskan untuk menyewa apartemen atau rumah kontrakan, tagihan utilitas harus dibayar terpisah setiap bulan. Hal ini penting untuk diperhitungkan dalam mengatur keuangan bulanan agar tidak terjadi kekurangan dana.

3. Makan dan Minum

Kebutuhan dasar lain yang tidak kalah penting dalam kehidupan sehari-hari adalah makanan dan minuman.

Banyak cerita di Quora dan Kaskus yang membandingkan biaya konsumsi di Jakarta dengan kota-kota kecil seperti Jogja atau Solo.

Memang benar bahwa perbandingan biaya makanan antara Jakarta dan kota-kota kecil memiliki selisih yang cukup jauh. Namun, jumlah biaya makanan dan minuman setiap orang dapat berbeda-beda tergantung pada gaya hidup masing-masing.

Makan di mall atau restoran mewah membutuhkan biaya yang lebih tinggi, berkisar antara Rp.50.000 hingga Rp.100.000 untuk satu kali makan. Untuk menghemat pengeluaran, ada beberapa pilihan alternatif seperti makan di kantin kampus atau karyawan, membeli makanan di warteg, menggunakan jasa catering bulanan, atau memasak sendiri.

Untuk menikmati makanan yang cukup, setidaknya diperlukan biaya sekitar Rp.20.000 per porsi.

4. Biaya Transportasi

Transportasi menjadi kebutuhan penting bagi perantau dalam menjalani kehidupan sehari-hari di Jakarta.

Terdapat dua jenis transportasi yang dapat digunakan, yaitu transportasi umum dan transportasi pribadi.

Meskipun memiliki kenyamanan dan keamanan tersendiri, menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil atau motor akan menambah pengeluaran untuk biaya parkir, bensin, dan perawatan.

Sebagai solusinya, bagi mahasiswa atau perantau awam, menggunakan transportasi umum seperti MRT dengan tarif maksimal Rp.14.000 atau bus Transjakarta dengan tarif Rp.3.500 sekali jalan adalah pilihan yang lebih bijak.

Selain itu, terdapat juga commuter line dan transportasi online yang tarifnya tergantung pada jarak yang ditempuh. Setidaknya, diperlukan biaya sekitar Rp.1.000.000 per bulan untuk transportasi yang perlu disisihkan dalam pengaturan keuangan bulanan.

5. Komunikasi

Untuk tetap terhubung dengan keluarga dan teman-teman di kampung, penting bagi perantau untuk membeli paket data. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli paket data tergantung pada provider yang digunakan dan setidaknya perlu menyisihkan dana sekitar Rp.50.000 hingga Rp.100.000.

Namun, biaya ini bisa ditekan dengan memanfaatkan wifi yang tersedia di tempat-tempat umum, seperti di kos-kosan atau apartemen. Selain itu, jika perlu memasang wifi sendiri, harus menyiapkan biaya tambahan mulai dari Rp.300.000 hingga di atas Rp.1.000.000 per bulan.

6. Asuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan menjadi salah satu upaya penting sebagai antisipasi dalam menghadapi risiko kesehatan. Namun, tidak semua perusahaan asuransi memberikan jaminan kesehatan yang sama.

Jika ingin memiliki asuransi kesehatan, premi yang harus dibayar tergantung dari masing-masing perusahaan asuransi.

7. Belanja Bulanan

Sebagai anak rantau, kebutuhan pokok seperti bahan makanan, air galon, camilan, dan perlengkapan kebersihan perlu dibeli secara rutin.

Budget dan sistem belanja setiap orang dapat berbeda-beda tergantung pada kebutuhan dan gaya hidup masing-masing. Namun, setidaknya perlu menyiapkan dana sekitar Rp.300.000 hingga Rp.400.000 per bulan untuk keperluan belanja.

Biaya yang dihabiskan juga tergantung pada tempat belanja yang dipilih, apakah di pasar tradisional atau supermarket.

8. Hiburan dan Rekreasi

Sebagai anak rantau yang membutuhkan hiburan dan rekreasi, Jakarta menyediakan berbagai tempat untuk dikunjungi, mulai dari yang gratis hingga yang sangat mahal.

Untuk menonton bioskop, setidaknya perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp.50.000 hanya untuk tiketnya saja.

Di mall, selain nonton bioskop, kalian bisa berbelanja, makan-makan, nongkrong di kedai kopi, dan melakukan aktivitas lainnya. Jika ingin mengunjungi mall, diperlukan dana minimal sekitar Rp.200.000.

Tidak hanya mall, Jakarta juga memiliki obyek wisata lain seperti museum, taman kota, bahkan pantai meskipun tidak sebersih di Pulau Bali atau daerah Indonesia timur. Budget untuk rekreasi tiap orang tergantung pada gaya hidup masing-masing.

9. Biaya Lain-Lain

Selain biaya-biaya yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat pula pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga seperti biaya perbaikan, kehilangan barang, biaya kesehatan apabila tidak memiliki asuransi, atau biaya keperluan kuliah bagi mahasiswa. Biaya-biaya ini sulit diprediksi dan berbeda untuk setiap orang.

10. Total dan Kesimpulan

Rp. 4.450.000 adalah jumlah minimum uang yang dianggap cukup untuk hidup secara normal di Jakarta. Namun, perhitungan kebutuhan hidup setiap individu dapat berbeda satu sama lain.