Lokasi: Puncak Pegunungan Desa Selopuro Kecamatan Lasem Rembang Jawa Tengah
HTM: 3000 / orang
Buka/Tutup: 06.30 – 17.00
Map: KlikDisini
Watu Congol di Rembang, Jawa Tengah merupakan salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi bagi para pecinta alam dan fotografi.
Terletak di kawasan pegunungan, Watu Congol menawarkan pesona keindahan alam yang memukau dengan formasi batuan yang unik dan menarik untuk diabadikan dalam foto.
Bagi kamu yang ingin mengunjungi Watu Congol, simaklah artikel ini untuk mengetahui lebih detail mengenai lokasi dan pesona keindahan wisata yang ada di Watu Congol.

Jawa Tengah memiliki banyak destinasi wisata yang menarik untuk dieksplorasi, salah satunya adalah objek wisata Watu Congol yang sedang menjadi trend saat ini. Terletak di puncak Pegunungan Desa Selopuro, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, kabupaten ini berada di timur laut provinsi tersebut.
Gagasan untuk mengembangkan daerah wisata ini bermula dari Paguyuban Karang Taruna Desa Selopuro. Proses pengembangan kawasan ini meliputi rencana pembangunan infrastruktur pendukung seperti lahan parkir yang lebih luas, kantin, dan fasilitas keamanan. Jadi, jangan lewatkan untuk mengunjungi Watu Congol saat berlibur di Jawa Tengah dan nikmati keindahan alamnya!

Dalam proses perencanaan, kawasan tersebut direncanakan untuk memiliki infrastruktur pendukung, dan kini fasilitas yang tersedia sudah cukup lengkap. Terdapat mushola, kamar mandi, dan penginapan yang dapat digunakan oleh pengunjung.
Perjalanan Menuju Kawasan Watu Congol
Untuk menuju ke tempat wisata ini, terdapat beberapa opsi transportasi yang dapat digunakan, baik transportasi pribadi maupun umum.
Jika menggunakan transportasi umum, opsi yang dapat dipilih adalah bis. Anda dapat turun di terminal bus kota atau desa terdekat dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek hingga mencapai Wisata Watu Congol.

Jalur menuju puncak gunung hanya dapat diakses dengan sepeda motor, namun penggunaan kendaraan bermotor setelah hujan sangatlah berbahaya karena kondisi jalan yang licin dan sempit dengan kemiringan mencapai 45 derajat.
Baca juga :
Oleh karena itu, banyak pengunjung yang memilih untuk berjalan kaki menuju puncak gunung, selain karena jaraknya yang dekat hanya satu kilometer saja.

Setelah sampai di atas perbukitan, pengunjung dapat menikmati pemandangan hamparan sawah yang hijau dan menenangkan, serta menikmati pesona pesisir pantai Utara Jawa dan Kota Rembang.
Untuk para pengunjung yang suka mengabadikan momen bersama keluarga atau teman, terdapat dua spot yang paling populer untuk berfoto. Spot pertama adalah area sisi barat yang lebih luas, sedangkan spot kedua adalah kawasan Watu Congol sendiri, meskipun lebih sempit. Jadi, jangan lupa untuk mengabadikan momen indah bersama orang terdekat di kedua spot tersebut!

Wisata ini seringkali ramai dikunjungi oleh para remaja yang ingin mengabadikan momen keindahan alamnya untuk diposting di Instagram. Selain itu, pengunjung biasanya datang pada pagi hari untuk menikmati pemandangan yang lebih segar dan sejuk.
Asal Usul dari Penamaan Watu Congol
Menurut legenda yang beredar luas, Watu Congol diartikan sebagai naga atau ular karena bentuknya yang menyerupai kepala naga atau ular yang menyembul dari balik bukit dan berada di bibir jurang.
Legenda tersebut menyebutkan bahwa batu besar yang berada di Watu Congol merupakan kepala naga atau ular yang terpisah dari badan dan ekornya.
Tubuhnya dikatakan berada di Desa Kajar, Lasem, sedangkan ekornya berada di Laut Bonang. Legenda ini menambah daya tarik Watu Congol sebagai destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Jika ingin berfoto di Watu Congol, pengunjung harus berhati-hati karena posisi batu yang berada tepat di sisi jurang. Selain bisa mengabadikan momen di Watu Congol, pengunjung juga dapat berfoto di empat rumah pohon yang tersedia.
Namun, karena kapasitasnya yang terbatas, pengunjung harus bergantian untuk menaiki rumah pohon tersebut, satu rumah pohon hanya dapat menampung 2-3 orang saja. Biaya masuk ke objek wisata ini sangat terjangkau, hanya sekitar Rp. 3.000 per orang.
Sejarah Panjang Watu Congol
Watu Congol memiliki sejarah panjang di balik penamaannya. Disebutkan bahwa Watu Congol dulunya adalah sebuah pesantren yang dipimpin oleh ayah dari KH Dalhar, dan kemudian lokasinya dipindahkan ke sebelah barat.

Pondok pesantren ini awalnya berlokasi di dukuh Santren, yang masih berada di Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
KH Abdurrauf didirikan pondok pesantren ini pada tahun 1820, dan berhasil mencetak santri handal berkat bimbingan para ulamanya. KH Dalhar adalah salah satu ulama yang terkenal dari pondok pesantren ini.
Perjalanan Hidup KH Dalhar Watucongol
Pangeran Dipenogoro memiliki keturunan yang lahir pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H atau 10 Syawal 1798 – Je (12 Januari 1870 M), yang masih terhitung satu keturunan dari lascar pejuang tersebut.

Ayah dari Mbah Dalhar, yaitu KH Abdurrohman, menjabat sebagai pemimpin kedua di Pondok Pesantren Darussalam Watucongol. Dalam silsilah pondok pesantren tersebut, Mbah Dalhar merupakan pemimpin ketiga.
Mbah Dalhar tidak hanya belajar dari orang tuanya di Pondok Pesantren Darussalam, tetapi juga pernah belajar di Pondok Pesantren Al-Kahfi Sumolangu Kebumen selama tiga tahun dan selama tujuh tahun di bawah bimbingan Syekh Mahfudz At-Termasi.
Setelah itu, Mbah Dalhar pergi ke Mekkah selama 27 tahun sebelum kembali ke Indonesia pada sekitar tahun 1916 untuk memimpin Pondok Pesantren Darussalam Watucongol.

Mbah Dalhar, nama panggilan dari pemimpin ketiga Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, belajar ilmu agama dan keilmuan dengan tekun selama bertahun-tahun.
Selain belajar langsung dari ayahnya di Pondok Pesantren Darussalam, Mbah Dalhar juga menghabiskan tiga tahun belajar di Pondok Pesantren Al-Kahfi Sumolangu Kebumen dan tujuh tahun lagi berguru kepada Syekh Mahfudz At-Termasi.
Setelah itu, Mbah Dalhar pergi ke Mekkah selama 27 tahun untuk menambah ilmu dan pengalaman sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada sekitar tahun 1916 untuk memimpin Pondok Pesantren Darussalam Watucongol.

Mbah Dalhar meninggal dunia pada Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 – Jimakir (1378 H), atau bertepatan dengan 8 April 1959 M, meskipun ada sumber yang menyebutkan bahwa beliau wafat pada 23 Ramadhan 1959.
Beliau meninggal setelah berjuang melawan penyakit selama tiga tahun terakhir hayatnya, namun ia meninggalkan karya penting yang telah diakui oleh banyak orang.
Salah satu karyanya yang terkenal adalah Kitab Tanwirul Maani, sebuah karya tulis berbahasa Arab yang membahas mengenai manaqib Syeikh As-Sayid Abil Hasan Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, seorang imam thariqah As-Syadziliyyah.