Lokasi: Jalan Kyai Haji Hasyim Ashari No. 11, Tumenggungan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur 62214
Map: Klik Disini
Buka: 24 Jam
Telepon: 089 605 009 999
Di Lamongan, wisatawan tak hanya tertarik dengan keindahan pantainya, tetapi juga wisata religi yang menjadi daya tarik utama. Terdapat banyak tempat suci yang dapat memperkuat keimanan kepada Tuhan yang dapat ditemukan di Lamongan, dan salah satunya yang sangat terkenal adalah Masjid Agung Lamongan.
Tak hanya memukau dengan arsitektur yang menawan, masjid ini juga menyimpan sejumlah benda bersejarah yang memiliki cerita unik di dalamnya.
Asal Usul

Mbah Yai Mahmoed dari Bojonegoro memulai pembangunan Masjid Agung Lamongan pada tahun 1908. Pada awalnya, masjid tersebut memiliki ukuran persegi dengan panjang sisi 0,5 meter.
Atap masjid terbuat dari kayu jati yang membentuk pola garis-garis. Selain itu, terdapat 4 tiang kayu jati yang dihiasi dengan ukiran khas kota Jepara.
Hingga saat ini, bagian pertama bangunan masjid ini masih terjaga dengan baik. Terdapat atap bertumpuk tiga lapis, serta empat tiang yang dilengkapi dengan ukiran tulisan Arab dan motif tumbuhan.

Bangun Kedua
Pada tahun 1970, KH. Mastoer Asnawi melaksanakan pembangunan kedua. Saat itu, sebuah menara yang menyerupai Masjid Qiblataini Madinah ditambahkan sebagai bagian dari proyek tersebut.
Penambahan ini terjadi karena Kyai H. Mastoer Asnawi telah lama tinggal di Arab Saudi. Menara ini berhasil diselesaikan dalam waktu satu tahun.
Namun, setelah dilakukan perombakan untuk pembangunan menara di sebelah utara, menara tersebut kini berada di dalam area masjid. Kemungkinan besar, menara tersebut masih ada hingga saat ini.

Bangun Ketiga
Pada tahun 1982, dilaksanakan pembangunan ketiga sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah jamaah yang datang ke Masjid Agung Lamongan. Pengurus atau ta’mir masjid mengadakan musyawarah dan hasilnya adalah perluasan area timur dan utara.
Baca juga :
Dalam pembangunan ketiga ini, ditambahkan beberapa ukiran kaligrafi yang dipasang di atas kubah. Selain itu, di sebelah kanan dan kiri kubah terdapat tulisan asmaul husna.
Asmaul husna mengandung makna tentang kebesaran Allah SWT. Selain itu, ruangan ini juga dilengkapi dengan empat tiang yang dihiasi dengan ukiran kaligrafi dan tumbuhan, serta terdapat 12 tiang kayu polos.

Kali ini, dilakukan pelebaran tanah masjid yang membentang hingga ke selatan, mencapai JLl. Basuki Rahmad, serta penambahan pintu gerbang di bagian selatan.
Selanjutnya, dilakukan pembangunan menara kembar setinggi 53 Meter, yang menggambarkan perumpamaan usia Rasulullah saat berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Renovasi Keempat
Pada renovasi keempat ini, serambi akan mengalami perombakan dan direncanakan akan dibangun tiga lantai dengan gaya arsitektur yang terinspirasi dari Timur Tengah.
Walaupun pembangunan yang dilakukan di Masjid Agung Lamongan memiliki skala yang besar, tetapi tetap memperhatikan dan menjaga keberadaan unsur budaya serta menghormati warisan budaya nasional.
Di tempat ini, benda-benda bersejarah yang menjadi cagar budaya tetap terjaga dengan sangat baik. Terdapat beberapa barang peninggalan bersejarah seperti Gapura utama, dua gentong, dua batu pasujudan, dua sumur, serta komplek pemakaman waliyullah.

Kehadiran benda-benda cagar budaya tersebut mampu menarik perhatian para wisatawan yang datang ke masjid tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk memperluas wawasan mereka.
Kisah Unik
Masjid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana da’wah Islam, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Masjid itu juga menyimpan beberapa peninggalan cagar budaya yang memiliki cerita unik di dalamnya.
Salah satu cerita yang terkenal berkaitan dengan dua gentong air yang terbuat dari batu yang ditempatkan di sisi gapura pintu masjid.
Menurut cerita yang beredar, kedua gentong batu itu dulunya dimiliki oleh dua putri kembar dari kerajaan Kediri bernama Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi.

Kala itu yang ingin meminang kedua putri kembar adalah putra Bupati Lamongan bernama Panji Laras dan Panji Liris.
Kisah Pernikahan
Dikatakan bahwa cerita pernikahan antara putra bupati dan putri raja adalah bagian dari upaya adipati Kediri untuk memperkuat hubungan dengan wilayah pesisir utara Jawa. Karena tujuan ini, Bupati Lamongan merasa ragu-ragu dalam memutuskan untuk menerima atau menolak tawaran tersebut.
Agar persyaratan tersebut dapat dipenuhi, Bupati Lamongan menetapkan tiga kriteria. Kriteria pertama adalah bahwa Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi harus memeluk agama Islam.

Persyaratan kedua adalah bahwa calon istri harus mengadakan prosesi lamaran ke keluarga calon suami. Persyaratan ketiga adalah calon pengantin perempuan harus menyiapkan hadiah berupa dua gentong air dan tikar, semuanya terbuat dari batu.
Setelah kerajaan Kediri menyetujui ketiga persyaratan tersebut, mereka mengirimkan kedua putrinya untuk melamar di Bupati Lamongan. Karena semua persyaratan telah terpenuhi, akhirnya Bupati Lamongan mengadakan prosesi pernikahan.

Meskipun begitu, pernikahan tersebut dibatalkan karena tidak mendapat persetujuan dari kedua putra Bupati, yaitu Panji Laras dan Panji Liris. Akibatnya, terjadi perang antara Kadipaten Lamongan dan Kerajaan Kediri.
KBIH Masjid Agung yang terletak di Jalan Kyai Haji Hasyim Ashari No. 11, Tumenggungan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tidak hanya menjadi tempat ibadah dan wisata religi, tetapi juga menjadi tempat yang sering diadakan acara besar seperti Lamongan bersholawat dan acara lainnya.
Wisatawan biasanya memotret menara kembar Masjid Agung Lamongan sebagai latar belakang fotonya. Pemandangan menara kembar Masjid Agung Lamongan semakin menakjubkan terutama di malam hari. Jika ingin mengetahui informasi lebih detail, dapat dilihat melalui website seperti tripadvisor dan lainnya.