{"id":25600,"date":"2023-04-26T05:05:51","date_gmt":"2023-04-26T05:05:51","guid":{"rendered":"https:\/\/wordpress-660014-2156615.cloudwaysapps.com\/?p=25600"},"modified":"2023-04-26T05:05:51","modified_gmt":"2023-04-26T05:05:51","slug":"disintegrasi-penyebab-analisa-dan-contoh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/matob.web.id\/note\/disintegrasi-penyebab-analisa-dan-contoh\/","title":{"rendered":"Disintegrasi : Pengertian, Penyebab, Analisa dan Contoh"},"content":{"rendered":"<p>Kali ini Matob akan membahas tentang <a href=\"https:\/\/matob.web.id\/note\/disintegrasi-penyebab-analisa-dan-contoh\/\">pengertian disintegrasi<\/a>, faktor penyebab, alat analisa dan contoh kasus yang pernah terjadi.<\/p>\n<h2>Pengertian dan Bentuk Disintegrasi<\/h2>\n<p>Pengertian Disintegrasi dalam <em>Webster\u2019s New Encyclopedic Dictionary 1996 <\/em>difahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah. Fenomena seperti ini biasanya terjadi pada negara yang memiliki usia yang masih relatif muda. Jika disebutkan secara angka di bawah 53 tahun.<\/p>\n<p>Secara sederhana disintegrasi merupakan bentuk perilaku setiap individu atau masyarakat yang hidup dalam keadaan ketidakteraturan, salah satu penyebabnya bisa dikarenakan adanya perubahan sosial yang terus menerus terjadi di setiap sisi kehidupan.<\/p>\n<p>Jika dilihat dari bentuknya, disintegrasi dapat digolongkan menjadi beberapa bagaian, di antaranya<\/p>\n<p><strong>Disintegrasi Sosial<\/strong><\/p>\n<p>Disintegrasi sosial merupakan ketidakadanya fungsi dan <a href=\"https:\/\/matob.web.id\/note\/apa-yang-dimaksud-dengan-norma\/\">norma<\/a> yang berjalan. Kondisi tersebut bisa dikarenakan adanya masyarakat yang kurang merasa puas dengan kondisinya, sehingga ia ingin melakukan perubahan-perubahan secara fundamental.<\/p>\n<p><strong>Disintegrasi Bangsa<\/strong><\/p>\n<p>Disintegrasi bangsa merupakan perpecahan hidup dalam masyarakat yang disebabkan karena adanya pengaruh negara lain atau negara sendiri. Salah satu penyebab adanya disintegrasi bangsa adalah tidak dapat menerima suatu perbedaan (kemajemukkan), sehingga tidak timbul sikap toleransi.<\/p>\n<p><strong>Disintegrasi Keluarga<\/strong><\/p>\n<p>Disintegrasi keluarga dapat didefinisikan sebagai disorganisasi keluarga yang disebabkan karena adanya kekurang pahaman antar anggota keluarga. Fakta ini dapat dilhat seperti adanya kasus perceraian, broken home, pisah ranjang, KDART, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-25602 aligncenter\" src=\"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2020\/03\/Disintegrasi-Keluarga.jpg\" alt=\"Disintegrasi Keluarga\" width=\"900\" height=\"506\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2020\/03\/Disintegrasi-Keluarga.jpg 900w, https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2020\/03\/Disintegrasi-Keluarga-300x169.jpg 300w, https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2020\/03\/Disintegrasi-Keluarga-768x432.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px\" \/><\/p>\n<h2>Faktor Penyebab Disintegrasi<\/h2>\n<p>Salah satu faktor penyebab adanya disintegrasi karena timbulnya konflik, sedangkan salah satu penyebab timbulnya konflik adalah adanya agresi atau penyerangan. Misalnya, terjadinya peristiwa perang di sampit, antara orang Madura dengan orang Dayak. Seperti halnya pula yang terjad di Ambon, Maluku. Antara orang Kristen dengan orang Islam. Dan masih banyak fenomena yang lainnya di Indonesia.<\/p>\n<p>Pengetahuan akan disintegrasi pada tingkat nasional menjadi penting untuk dipahami dalam konteks kebangsaan dan pendidikan. Selain itu, perlu diketahui pula bahwa ada beberapa faktor penyebab disintegrasi nasional atau penghambat integrasi sebagaimana dirumuskan Tholib dalam \u201cModul Pembelajaran PPKn: Integrasi Nasional dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika\u201d (2020). Beberapa faktor itu antara lain:<\/p>\n<p>a. Kurangnya penghargaan terhadap kemajemukan yang bersifat heterogen<\/p>\n<p>b. Kurangnya toleransi antargolongan<\/p>\n<p>c. Kurangnya kesadaran dari masyarakat Indonesia terhadap ancaman dan gangguan dari luar<\/p>\n<p>d. Adanya ketidakpuasan terhadap ketimpangan hasil-hasil pembangunan. Upaya untuk mencapai proses integrasi nasional dapat dilakukan dengan cara menjaga keselarasan antarbudaya.<\/p>\n<p><strong>Selain itu, menurut pendapat yang lain, ini adalah beberapa <a href=\"https:\/\/matob.web.id\/note\/disintegrasi-penyebab-analisa-dan-contoh\/\">faktor penyebab disintegrasi bangsa<\/a><\/strong><\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Berkembangnya ideologi \u2013 ideologi yang sangat bertentangan dengan Pancasila seperti Ideologi komunisme, Ideologi leninisme, Ideologi marxisme, dan Ideologi neoliberalisme.<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Adanya golongan \u2013 golongan maupun kelompok masyarakat yang tidak mengikuti aturan baik aturan daerah dan negara secara benar dan baik.<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap para pemimpin dan pengelola negara.<\/p>\n<p>4.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Norma \u2013 norma yang sebelumnya berlaku di masyarakat, menjadi sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya untuk mencapai cita \u2013 cita rakyat.<\/p>\n<p>5.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Kurangnya sanksi yang tegas bagi para pelanggara aturan daerah dan negara.<\/p>\n<p>6.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Setiap tindakan yang dilakukan masyarakat sudah tidak berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 lagi.<\/p>\n<p>7.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Menurunya sikap toleransi dan tenggang rasa antar masyarakat.<\/p>\n<p>8.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Terciptanya suasana politik yang tidak kondusif dan tidak sehat sehingga memecah belah rakyatnya.<\/p>\n<p>9.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Meningkatknya sikap apatisme dan egoisme.<\/p>\n<p>10.\u00a0Terjadinya ketidakmerataan baik di bidang pembangunan, pendidikan, dsb.<\/p>\n<p>Sejalan dengan faktor-faktor tersebut, berikut adalah beberapa contoh dari disintergrasi nasional atau disintegrasi bangsa yang berujung pada konflik sosial di Indonesia.<\/p>\n<h3>Identifikasi faktor<\/h3>\n<p>Untuk mengidentifikasi lebih jauh terkait timbulnya konflik yang disebabkan oleh agresi, ada beberapa teori yang bisa digunakan sebagai alat analisa<\/p>\n<p><strong>Teori Insting<\/strong><\/p>\n<p>Agresi berasal dari dorongan atau fitrah biologis manusia untuk bertindak merusak dan destruktif. Freud menjelaskan agresi berasal dari insting <em>thanatos <\/em>\u00a0atau keinginan untuk mati yang dimanifestasikan dengan menyerang atau menyakiti orang lain maupun diri sendiri.<\/p>\n<p><strong>Teori Dorongan<\/strong><\/p>\n<p>Agresi disebabkan karena adanya kondisi-kondisi eksternal misalnya, putus asa, kehilangan muka atau malu yang membuat ornag bermotif kuat melakukan tindakan menyakitkan orang lain. Dollard menjelaskan hipotesis frustasi-agresi, yaitu bahwa frustasi adalah perasaan yang tidak menyenangkan yang menimbulkan tindakan agresi. Ada hubungan erat antara perasaan negatif akibat frustasi dengan perilaku agresif.<\/p>\n<p><strong>Teori Neo-asosiasi Kognitif<\/strong><\/p>\n<p>Agresi berasal dari reaksi negatif terhadap pengalaman, kognisi, dan ingatan yang tidak menyenangkan. Berkowitz mengatakan jika mengalami perasaan yang tidak menyenangkan, orang lain cenderung melakukan tindakan agresif atau eskapis (melarikan diri) dari keadaan tidak menyenangkan.<\/p>\n<p><strong>Teori Pembelajaran Sosial<\/strong><\/p>\n<p>Agresi terbentuk karena pembelajaran dari lingkungan sekitarnya, baik melalui pengalaman langsung maupun mengamati perilaku orang lain. Albert Bandura menjelaskan orang agresif dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengalaman masa lalunya, penguatan atau hukuman terhadap agresifnya. Persepsi orang yang bersangkutan terhadap tepat tidaknya agresi yang dilakukan, dan antisipasinya terhadap potensi akibat yang ditimbulkan oleh tindakan agresinya.<\/p>\n<h3>Faktor Penyebab Konfilk Menurut Simon Fisher<\/h3>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.goodreads.com\/book\/show\/892149.Working_with_Conflict\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Simon Fisher<\/a> <\/strong>menjelaskan bahwa konflik terjadi karena beberapa faktor<\/p>\n<p><strong>Teori Relasi masyarakat<\/strong><\/p>\n<p>Konflik terjadi karena ada polarisasi yang terus menerus, kecurigaan, ketidakpercayaan, dan pertentangan antara kelompok yang berbeda dalam masyarakat.<\/p>\n<p><strong>Teori Negosiasi Berprinsip<\/strong><\/p>\n<p>Konflik dikarenakan oleh posisi yang bertentangan dan pandangan konflik zero-sum yang diadopsi oleh pihak konflik.<\/p>\n<p><strong>Teori Kebutuhan Manusia<\/strong><\/p>\n<p>Konflik yang berakar mendalam biasanya disebabkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, kebutuhan primer, psiko-sosial, termasuk pula di dalamnya keamanan, identitas, perhatian, partisipasi, dan otonomi.<\/p>\n<p><strong>Teori Identitas<\/strong><\/p>\n<p>Konflik bisa disebabkan oleh perasaan identitas yang terancam dan seringkali berakar dari tidak terpecahkannya masalah kerugian di masa lampau dan penderitaan.<\/p>\n<p><strong>Teori Miskomunikasi antar Budaya<\/strong><\/p>\n<p>Timbulnya konflik dikarenakan adanya tipe komunikasi kultural yang bertentangan atau berbeda.<\/p>\n<p><strong>Teori Tranformasi Konflik<\/strong><\/p>\n<p>Konflik dapat terjadi karena masalah nyata yaitu ketidaksertaan dan ketidakadilan yang diekspresikan dalam persaingan kerangka kerja sosial, budaya, dan ekonomi.<\/p>\n<h2><strong>Contoh Kasus Disintegrasi yang Pernah Terjadi di Indonesia<\/strong><\/h2>\n<p>Apa saja <a href=\"https:\/\/matob.web.id\/note\/disintegrasi-penyebab-analisa-dan-contoh\/\">contoh peristiwa disintegrasi bangsa<\/a>? Berikut ini beberapa contoh kasus disintegrasi yang pernah terjadi di Indonesia<\/p>\n<ul class=\"i8Z77e\">\n<li class=\"TrT0Xe\">Pemberontakan Partai Komunis Indonesia.<\/li>\n<li class=\"TrT0Xe\">Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)<\/li>\n<li class=\"TrT0Xe\">Pemberontakan Andi Aziz.<\/li>\n<li class=\"TrT0Xe\">Pemberontakan PRRI dan PERMESTA.<\/li>\n<li>Gerakan Aceh Merdeka<\/li>\n<li class=\"TrT0Xe\">Konflik antar suku di Sampit (2001)<\/li>\n<li class=\"TrT0Xe\">Konflik antar agama di Ambon (1999)<\/li>\n<li class=\"TrT0Xe\">Konflik antar etnis (1998)<\/li>\n<li class=\"TrT0Xe\">Konflik golongan agama (2000-an)<\/li>\n<\/ul>\n<p>Dari penjelasan di atas, secara sederhana disintegrasi merupakan bagian dari ancaman dalam kerukunan antar masyarakat. Oleh karena itu, cara mengatasi kejadian ini salah satunya dengan menjalankan terus komitmen kesepakatan antar masyarakat yang ada.<\/p>\n<p>Pengantasan disintegrasi juga dapat dilakukan dengan menciptakan pranata sosial yang disesuaikan dengan proses perubahan sosial-budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Apabila penanggualangan ini tidak dilakukan maka niscaya dampak disintegrasi akan dirasakan oleh masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kali ini Matob akan membahas tentang pengertian disintegrasi, faktor penyebab, alat analisa dan contoh kasus yang pernah terjadi. Pengertian dan Bentuk Disintegrasi Pengertian Disintegrasi dalam Webster\u2019s New Encyclopedic Dictionary 1996 difahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah. Fenomena seperti ini biasanya terjadi pada negara yang memiliki usia yang masih relatif muda. Jika [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25601,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[33,58,82,95],"class_list":["post-25600","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sosial","tag-disintegrasi","tag-konflik","tag-politik","tag-sosial"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25600","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25600"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25600\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28983,"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25600\/revisions\/28983"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25601"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25600"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25600"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/matob.web.id\/note\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25600"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}