Gangguan pendengaran sering dianggap masalah orang lanjut usia. Padahal dalam beberapa tahun terakhir, tren kerusakan pendengaran di Indonesia mulai bergeser ke usia yang jauh lebih muda. Paparan suara keras, penggunaan earphone berlebihan, polusi kebisingan kota, hingga budaya “sound horeg” mulai disebut para dokter THT sebagai ancaman serius bagi kesehatan telinga masyarakat Indonesia.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kemampuan mendengar. Gangguan pendengaran juga berpengaruh pada produktivitas kerja, kesehatan mental, kemampuan belajar anak, hingga risiko demensia pada usia lanjut.
Indonesia Termasuk Negara dengan Kasus Gangguan Pendengaran Tinggi
Sejumlah penelitian menunjukkan Indonesia termasuk negara dengan prevalensi gangguan pendengaran cukup tinggi di Asia Tenggara. Penelitian dari Universitas Syiah Kuala bahkan menyebut Indonesia merupakan salah satu dari empat negara di Asia Tenggara dengan prevalensi gangguan pendengaran tertinggi. (Jurnal USK)
Sementara data Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa gangguan pendengaran terus meningkat secara global dan Indonesia mulai menghadapi tren yang sama. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi disabilitas pendengaran pada usia di atas satu tahun mencapai 0,4 persen. (Ministry of Health of Indonesia)
Angka tersebut tampak kecil, tetapi banyak ahli menilai kasus sebenarnya jauh lebih besar karena:
- banyak masyarakat tidak sadar mengalami penurunan pendengaran,
- gangguan ringan sering tidak diperiksa,
- stigma penggunaan alat bantu dengar masih tinggi,
- akses pemeriksaan audiometri belum merata.
Gangguan Pendengaran Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
Dulu gangguan pendengaran identik dengan lansia. Sekarang tren mulai berubah.
Penelitian terbaru di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado menunjukkan mayoritas pasien gangguan pendengaran justru berada pada kelompok usia dewasa produktif, dengan dominasi laki-laki. Jenis gangguan terbanyak adalah mixed hearing loss dengan tingkat keparahan berat. (E-Journal of Sam Ratulangi University)
Fenomena ini cukup mengkhawatirkan karena berarti:
- kerusakan telinga mulai terjadi lebih cepat,
- paparan kebisingan harian makin tinggi,
- generasi muda semakin rentan terhadap hearing loss permanen.
Earphone dan Headset Jadi Faktor Besar
WHO dan Kemenkes mulai menyoroti kebiasaan mendengarkan audio volume tinggi dalam jangka panjang.
Kementerian Kesehatan menyebut lebih dari 1 miliar anak muda di dunia berisiko mengalami kerusakan pendengaran permanen akibat penggunaan audio keras terlalu lama. (Ministry of Health of Indonesia)
Di Indonesia sendiri, perubahan gaya hidup digital memperparah risiko tersebut:
- penggunaan TWS hampir sepanjang hari,
- gaming dengan headset volume tinggi,
- konsumsi musik streaming nonstop,
- budaya bekerja sambil memakai earphone,
- paparan suara media sosial dan video pendek.
Masalahnya, kerusakan saraf telinga sering berlangsung perlahan tanpa disadari.
Budaya Kebisingan di Indonesia Mulai Jadi Sorotan
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena “sound horeg” menjadi perhatian serius dokter THT dan media nasional.
Beberapa laporan menunjukkan pasien gangguan telinga meningkat setelah acara dengan tingkat kebisingan ekstrem. Salah satu dokter THT bahkan menyebut dengung setelah terpapar suara keras bisa menjadi tanda awal kerusakan saraf pendengaran. (Reddit)
Paparan suara di atas 85 desibel dalam waktu lama memang dapat merusak sel rambut halus di koklea telinga. Kerusakan ini bersifat permanen karena sel tersebut tidak dapat tumbuh kembali.
Sebagai gambaran:
- percakapan normal: sekitar 60 dB,
- jalan raya ramai: 80–90 dB,
- konser atau sound system ekstrem: bisa 110–130 dB.
Pada level sangat tinggi, kerusakan bisa terjadi hanya dalam hitungan menit.
Anak-anak Indonesia Juga Mulai Rentan
Gangguan pendengaran pada anak menjadi masalah serius karena berdampak langsung pada perkembangan bicara dan kemampuan belajar.
Kemenkes menyebut sekitar 3 dari 100 anak di Indonesia mengalami gangguan pendengaran. (detikHealth)
Penelitian pada siswa SD di Jakarta Barat juga menemukan adanya prevalensi gangguan pendengaran pada anak usia sekolah dan menekankan pentingnya deteksi dini. (UNTAR Journal)
Banyak kasus pada anak terjadi akibat:
- infeksi telinga berulang,
- penanganan flu dan pilek yang terlambat,
- penggunaan gadget dengan volume tinggi,
- paparan suara keras lingkungan.
Masalahnya, anak sering tidak sadar bahwa pendengarannya mulai menurun.
Lansia Tetap Jadi Kelompok Risiko Tertinggi
Walaupun usia muda meningkat, kelompok lansia tetap menjadi penderita terbesar.
Penelitian di Banda Aceh menunjukkan gangguan pendengaran paling banyak terjadi pada usia 60–74 tahun dengan dominasi tuli sensorineural bilateral. (Jurnal USK)
Ini berkaitan dengan presbikusis, yaitu penurunan pendengaran akibat penuaan alami.
Namun sekarang, para ahli mulai khawatir bahwa generasi yang sejak muda sering terpapar suara keras akan mengalami gangguan lebih cepat saat tua nanti.
Dampak Gangguan Pendengaran Tidak Sesederhana “Kurang Dengar”
Kerusakan pendengaran memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup.
Beberapa dampak yang sering terjadi:
- sulit memahami percakapan,
- mudah lelah saat berkomunikasi,
- menarik diri dari lingkungan sosial,
- gangguan konsentrasi,
- stres dan kecemasan,
- penurunan produktivitas kerja.
Pada lansia, hearing loss juga dikaitkan dengan peningkatan risiko:
- depresi,
- isolasi sosial,
- penurunan fungsi kognitif,
- demensia.
Karena otak harus bekerja lebih keras untuk memahami suara yang tidak terdengar jelas.
Banyak Orang Tidak Sadar Telinganya Mulai Rusak
Inilah masalah terbesar.
Gangguan pendengaran biasanya berkembang perlahan. Banyak orang baru sadar setelah:
- sering berkata “hah?”,
- sulit mendengar di tempat ramai,
- telinga berdenging,
- volume TV makin keras,
- sulit memahami suara perempuan atau anak kecil.
Di komunitas online Indonesia sendiri, mulai banyak anak muda yang mengaku mengalami gejala seperti sulit memahami percakapan di keramaian atau telinga berdenging setelah paparan speaker keras. (Reddit)
Penggunaan Alat Bantu Dengar Masih Rendah
Walaupun kasus cukup tinggi, penggunaan alat bantu dengar di Indonesia masih tergolong rendah.
Data Kemenkes menunjukkan proporsi penggunaan alat bantu dengar baru sekitar 4,1 persen pada kelompok yang membutuhkan. (Ministry of Health of Indonesia)
Penyebabnya:
- harga perangkat relatif mahal,
- stigma sosial,
- kurang edukasi,
- keterbatasan layanan audiologi.
Padahal alat bantu dengar modern sekarang jauh lebih kecil, pintar, dan nyaman dibanding generasi lama.
Masa Depan Indonesia: Ancaman “Generasi Tuli Digital”?
Jika tren penggunaan audio keras terus meningkat tanpa edukasi yang baik, Indonesia berpotensi menghadapi lonjakan gangguan pendengaran pada usia produktif dalam 10–20 tahun ke depan.
Apalagi budaya:
- konser ekstrem,
- penggunaan headset nonstop,
- kebisingan kendaraan,
- sound system berlebihan,
- konten audio volume tinggi,
sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari.
WHO sendiri memperingatkan bahwa gangguan pendengaran akan menjadi salah satu masalah kesehatan global terbesar pada masa depan. (Ministry of Health of Indonesia)
Cara Mencegah Kerusakan Pendengaran
Beberapa langkah sederhana sebenarnya sangat efektif:
- gunakan aturan volume 60/60 (maksimal 60% volume selama maksimal 60 menit),
- gunakan earplug di lingkungan sangat bising,
- beri waktu istirahat telinga,
- hindari tidur memakai earphone,
- lakukan pemeriksaan audiometri bila sering telinga berdenging,
- segera obati infeksi telinga.
Karena sekali saraf pendengaran rusak, kerusakannya umumnya permanen.

Kesimpulan
Tren gangguan pendengaran di Indonesia menunjukkan arah yang mengkhawatirkan. Jika dulu hearing loss didominasi lansia, kini usia produktif dan bahkan anak-anak mulai terdampak. Kombinasi gaya hidup digital, paparan kebisingan ekstrem, serta rendahnya kesadaran masyarakat menjadi faktor utama peningkatan kasus.
Masalah ini sering dianggap sepele karena tidak terlihat secara fisik. Padahal kerusakan pendengaran dapat mempengaruhi pendidikan, pekerjaan, kesehatan mental, hingga kualitas hidup seseorang dalam jangka panjang.
Indonesia mungkin sedang menghadapi ancaman kesehatan yang sunyi — tetapi dampaknya bisa sangat besar di masa depan.


