skill vs attitude Skill atau Attitude, Mana yang Lebih Penting Untuk Karirmu?

Skill atau Attitude, Mana yang Lebih Penting Untuk Karirmu?

Kali ini Matob akan membahas, Manakah yang lebih penting antara skill vs attitude. Monggo disimak yaa.

Kalau kita memantau perdebatan para netizen di dunia maya, kita selalu menamukan hal yang menarik. Salah satunya adalah perdebatan antara lebih penting mana antara skill atau attitude di dunia kerja.

Ada seorang seniman yang dikritik oleh salah satu mahasiswi yang pernah kuliah di jepang karena dianggap berkilah saat sharing pengalaman menghadapi permasalahan saat berkarya.

Diskusi itu ternyata panjang kelanjutannya. Sebagian netizen beropini bahwa si mahasiswi justru tidak tau cara menepatkan diri, bahkan cenderung kasar dalam dialog itu. Dari awal membuka privasi siapa si seniman itu, perbincangan yang terjadi sesudahnya malah menyoroti jawaban-jawaban defensif dari si mahasiswi.

Netizen cukup geram sampai mengingatkan si mahasiswi yang mengaku sebagai “bibit unggul” karena menerima beasiswa itu soal masa depannya kelak. Banyak ragam komentar lain muncul. Salah satunya yang menarik dan agak sarkas adalah “Wah, alamat bakal ditolak perusahaan waktu melamar kerja.” ujar salah satu warga net.

Skill Vs Attitude dalam Dunia Kerja

Skill Vs Attitude dalam Dunia Kerja

Pada berbagai forum perekrut tenaga kerja, di media nasional, bahkan riset jurnal internasional, belakangan ini semakin sering terjadi pembahasan tentang pilihan skill vs attitude dalam hal rekrutmen karyawan. Rata-rata kesimpulan yang didapat adalah secara umum, attitude harus didahulukan daripada skill bagi dalam rekrutmen calon karyawan.

Proses perekrutan bisa melelahkan, jadi penting untuk melengkapi diri Anda dengan informasi sebanyak mungkin tentang kandidat sebelum Anda membuat keputusan akhir.

Enza Artino di LinkedIn berpendapat bahwa Skill dan Attitude harus menjadi persyaratan terpenting bagi organisasi mana pun yang mendefinisikannya

“Attitude adalah cara berperilaku, berdasarkan motivasi batin, nilai dan tujuan pribadi kita. Skill adalah aktivitas / kemampuan yang dapat kami lakukan / berikan, apa yang kami pelajari selama karier profesional kami. “

baca juga : Sebuah Pelajaran dari Sebuah Kegagalan Bisnis

Hasil Riset di Inggris terhadap para HRD dan Calon Pelamar Pekerjaan

Riset yang diselenggarakan di Inggris tahun 2010 mendapati bahwa 96 persen HRD lebih mengedepankan attitude daripada skill. Namun sebaliknya, kebanyakan pelamar malah lebih show up tentang skill daripada attitude mereka (60 pelamar).

Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan skill dan apa pula maksud attitude dalam konteks ini?

Mark Murphy, penulis Hiring for Attitude sekaligus buku best seller Hundred Percenters dan HARD Goals, pada wawancara dengan Forbes edisi 23 Januari 2012 sudah menyebutkan pentingnya attitude untuk memulai jalan karier.

Murphy mengatakan, 46 persen dari 20.000 pekerja baru yang disurvei kedapatan gagal dalam 18 bulan. Yang lebih mengejutkan, 89 persen kegagalan mereka adalah karena alasan attitude dan hanya 11 persen yang disebabkan kekurangan skill.

Menurut Mark Murphy, alasan attitude itu mencakup ketidakmampuan menerima arahan, Rendahnya kecerdasan emosional, motivasi yang kurang, dan emosi yang tidak stabil atau temperamental. Sementara itu, skill teknis tetap urgent untuk rekrutmen karyawan, namun kemampuan tersebut lebih gampang untuk diukur. Cukup dengan tes kecakapan, kapasitas teknis calon karyawan sudah dapat diketahui sesuai standar yang ada.

Hal ini berbeda dengan attitude yang memerlukan soft skillAttitude akan semakin baik atau malah memburuk akan tergantung pada kapasitas dalam soft skill. Tes kecakapan tidak akan dapat mengukur seberapa besar motivasi seseorang untuk belajar hal baru, berpikir inovatif, menerima kegagalan, mengolah masukan dan arahan, atau berkolaborasi dengan partner di tempat kerja.

Sebagai contoh, Murphy mengatakan seorang karyawan direkrut sebab kecerdasan, experience bisnis, dan kemampuan analisis strateginya. Namun, semua keunggulan itu dinilai akan percuma jika ternyata dia otoriter dan pengarah yang kaku, sementara tempat kerja barunya memiliki kultur kerja yang menempatkan keceriaan dan persahabatan di atas segalanya.

baca juga : Pengertian Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS)

Kesimpulan

Ada alasan lain mengapa Anda mempekerjakan karena attitude dan bukan skill. Banyak orang tidak memenuhi semua harapan yang dibutuhkan dan tidak memiliki 100% skill yang dibutuhkan untuk memulai. Juga akan ada lebih banyak pilihan untuk dipilih jika Anda lebih fokus pada apa yang dapat dibawa orang ke tim daripada berapa banyak skill yang mereka miliki.

Memiliki attitude yang benar juga mengarah pada kepemimpinan dan terlebih lagi. Keberhasilan organisasi Anda bergantung pada attitude pemimpin. Anda, sebagai seorang pemimpin, memiliki pilihan untuk memutuskan bagaimana Anda ingin mengelola tim Anda, bagaimana Anda ingin menginspirasi dan memotivasi mereka.

Memiliki attitude yang benar

Perusahaan seperti apa yang ingin Anda dirikan dan apa yang paling penting bagi Anda? Apakah Anda lebih suka memiliki perusahaan yang sukses berdasarkan keuntungan atau Anda lebih suka memiliki perusahaan di mana orang-orangnya kreatif, bahagia dan ingin membuat perubahan bersama Anda dan melihat gambaran yang lebih besar? Bagaimana Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan ini menentukan akan menjadi pemimpin seperti apa Anda nantinya.

Untuk memiliki attitude yang baik dalam kepemimpinan, kita harus selalu waspada terhadap hal-hal yang mempengaruhi kita. Meskipun Anda terus-menerus memengaruhi orang, Anda sendiri terus-menerus dipengaruhi oleh lingkungan Anda, Anda harus memperhatikan setiap saat, berpikiran terbuka, fleksibel, proaktif, terdidik dengan semua perubahan saat ini dan masa depan.

“Ini adalah attitude kita pada awal usaha yang sulit yang, lebih dari apa pun, akan menentukan hasil yang berhasil.”

– William James

Dari sini, komentar kebablasan “mahasiswi bibit unggul” dalam cerita pembuka di atas seharusnya sudah memberikan peringatan kepada kita semua, terutama first jobber yang baru saja bekerja. Terlebih lagi, bukan rahasia pula bila perekrut kerja sekarang menjadikan penelusuran jejak digital pelamar kerja sebagai bagian dari verifikasi perekrutan karyawan.

Oleh karena itu, mari mulai belajar untuk menjaga attitude di mana pun, termasuk di media sosial untuk menjadi bekal di masa depan yang tidak cuma digunakan di lingkungan kerja, namun di mana saja Anda berada.